Mana Ada Bintang Bintang Angkasa Malam
Menulis dengan pena, bertintakan air mata itu, bukan agar ceritanya menusuk ke dalam jiwa. Tapi biar ceritanya kekal, jadi pengajaran, jadi pengalaman. Jadi sesuatu yang dulunya menetap di dalam hati, tapi sekarang sudah meminta izin untuk pergi. Aku relakan. Berdamai dengan kesedihan itu lebih menyenangkan dan menenangkan. Terima saya bukan kerana menyerah. Bukan juga kerana kalah. Saya sepenuh hati menerima apa yang Tuhan telah tuliskan buat saya. Meskipun berat. Saya ibaratkan rasa cinta saya dengan lautan; sangat luas, sangat dalam dan penuh dengan ketakutan. Saya takut cintaku terlalu melebih, lalu melemaskannya. Eh tapi akhirnya saya yang lemas. Lemas sebelum sempat belajar berenang. Tanpa saya sedari, kapal sudah lebih dari separuh tenggelam. Tenggelam bersama harapan, bersama perasaan. Lalu seperti yang saya katakan padanya; akan saya habisi sisa hidup saya dengan hanyut dalam penyesalan, mengenangkan segala apa yang seharusnya saya lakukan ...